Pernahkah kamu merasa sudah banyak membuat konten, tapi view nya segitu-gitu aja?
Sudah coba perbaiki cara bicaranya, topiknya terus kamu ubah, bahkan membeli kamera mahal, tapi konten masih saja stuk tanpa alasan yang jelas.

Bisa jadi, yang salah bukan kamera atau topiknya, tapi cara kamu menyampaikannya yang salah.
Dari pengalaman saya meng-handle 38++ Brand di Social Media bersama Growlab, agar kamu bisa menyampaikan dengan baik, buatlah script konten yang optimal. Dengan script konten yang optimal, konten kamu paling tidak jadi jauh lebih terarah, dan bisa lebih mudah untuk mendapati trafic.
Di postingan kali ini, saya akan membahas dengan detail, bagaimana cara menyusun script, dan bagaimana struktur yang tepat dalam menyusun script konten.
Apa Itu Script Konten?
Script konten adalah kerangka atau naskah tertulis yang mengatur alur pesan, urutan penyampaian, dan cara penyampaian konten agar tujuan komunikasi tercapai secara efektif.
Script konten biasanya dibuat sebelum sosmed specialist membuat konten.
Gunanya apa? Simpelnya, script konten dapat mempermudah dalam pembuatan konten, sehingga semua pesan yang ingin disampaikan dalam konten tersebut, bisa disampaikan dengan merata, dengan tanpa adanya kesalahan.
Dalam pembuatan konten, seringkali karena tanpa script yang jelas, kita melakukan improvisasi yang sebenarnya tak perlu, atau malah kita lupa kata penting yang sebelumnya terpikirkan, dan akhirnya tak jadi tersampaikan.
Baca Juga: Tik Tok menjadi New Search Engine, Bagaimana Konten Kreator Harus Menyikapinya?
Bagaimana Cara Membuat Script Konten?
Banyak sekali beredar di SERP, maupun Social Media seperti Tik Tok, Instagram, maupun youtube, tutorial untuk membuat script konten, tapi tutorial siapa yang sebenarnya benar?
Tidak bermaksud menyalahkan yang lain, tapi saran saya, tak semua yang direkomendasikan di internet bisa kamu ikuti.
Karena sejatinya, script konten itu bersifat struktural. Dimana artinya, script konten tak bisa sembarangan disusun. Oleh karena itu, saya akan jelaskan cara dan metode dalam membuat script konten.
Kalau kamu asal-asal-an dalam membuat script, tak heran, jika konten mu stuck, sekalipun kamu sudah punya content pillar yang jelas.
Oleh karena itu, saya akan coba menjelaskan, mulai dari bagaimana menulis struktur script, komponen penting dalam script, dan rules penting lainnya.
1. Struktur Script
Struktur script bisa kamu gunakan, paling tidak untuk membantu kamu agar konten yang kamu generate nanti lebih mudah dimengerti oleh audiens. Paling tidak, ada empat tahapan dalam menyusun struktur script;

Pertama, di struktur script konten ini, kita mulai dari sebuah Hook.
A. Apa Itu HOOK?
Hook adalah bagian pembuka konten yang bertugas menarik perhatian audiens di detik pertama dan dapat membuat mereka berhenti scroll.
Singkatnya:
Hook = alasan kenapa konten kamu pantas ditonton.
Kalau hook gagal, Singkatnya:
Hook = alasan kenapa konten kamu pantas ditonton.
Kalau hook gagal, isi sebagus apa pun sering nggak kebaca.
Jenis-jenis Hook:
- Hook Pertanyaan
Contoh:
“Kenapa konten kamu konsisten tapi nggak tumbuh?” - Hook Pernyataan Menohok
Contoh:
“Masalah konten kamu bukan di algoritma.” - Hook Data/Fakta
Contoh:
“80% konten gagal karena opening-nya lemah.” - Hook Relatable
Contoh:
“Pernah ngerasa capek bikin konten tapi views segitu-gitu aja?” - Hook Curiosity (Pancing Penasaran)
Contoh:
“Kesalahan ini kelihatan sepele, tapi bikin reach anjlok.”
B. Foreshadow
Jarang ada yang membahas, pada dasarnya, setelah kamu membuat hook di script kamu, perlu sekali ada yang mendukung argumen hook kamu.
Terasa sangat janggal, jika dari pembukaan, langsung masuk ke poin inti konten, kan?
Sebisa mungkin, coba berikan kalimat penghubung, atau scane, yang bisa memadukan anatara hook dan isi.
Dan itu adalah foreshadow.
Foreshadow dalam script adalah sebuah kalimat atau narasi konsep yang memberikan ekspetasi atau rasa penasaran terhadap ending dari konten terkait, yang membuat penonton merasa “mau” untuk melihat kontenmu sampai habis.
Contoh dari foreshadow misalnya begini;
Hook: Pengalamanmu beli mobil pertama kali di Malang
Foreshadow: Kalian pasti ga bisa tebak aku dapet di harga berapa.
Nah, begitulah fungsi dari foreshadow, sebelum kamu membahas bagaimana pengalamanmu dalam membeli mobil, kamu harus buat suatu narasi atau konteks, yang bisa membuat audiensmu merasa ada penghubung kalimat, dan narasi yang membuat mereka mau menonton kontenmu sampai habis.
C. Isi (Body Content)
Simpelnya, Isi adalah bagian inti konten yang menyampaikan pesan utama, insight, atau solusi yang ingin kamu sampaikan ke audiens.
Jenis-jenis Isi:
- Isi Edukatif
Fokus utama dari jenis isi ini ada pada penjelasan, konsep, atau tips yang bisa dijelaskan secara mendetail;
Contoh: tutorial, how-to, listicle - Isi Problem–Solution
Jenis ini, metode yang langsung memaparkan problem yang mendukung hook yang kamu gunakan
Cocok buat konten digital marketing & SEO - Isi Storytelling
Cerita pengalaman, proses, atau kegagalan
Bikin audiens lebih nyambung secara emosional - Isi Insight / Opini
Sudut pandang pribadi yang berbasis pengalaman
Cocok buat personal branding - Isi Data & Studi Kasus
Pakai angka, hasil eksperimen, atau contoh nyata
Bikin konten lebih kredibel
D. CTA (Call to Action)
Call to Action, atau biasa disingkat jadi CTA, adalah ajakan langsung yang mengarahkan audiens untuk melakukan tindakan setelah mengonsumsi konten.
Tanpa CTA:
Konten ditonton → selesai → dilupakan.
Fungsi dari CTA adalah mengajak audiens melakukan sesuatu setelah menonton konten-kontenmu.
Jenis-jenis CTA:
- CTA Interaksi
Tujuan: engagement
Contoh:
“Setuju atau nggak? Tulis di kolom komentar.” - CTA Edukasi Lanjutan
Tujuan: retention
Contoh:
“Follow buat bahasan lanjutan.” - CTA Simpan & Share
Tujuan: distribusi
Contoh:
“Save konten ini biar nggak lupa.” - CTA Lead / Konversi
Tujuan: bisnis
Contoh:
“DM ‘SCRIPT’ kalau mau template-nya.” - CTA Reflektif
Tujuan: bangun koneksi
Contoh:
“Menurut kamu, bagian mana yang paling relate?”
Untuk mempelajari lebih banyak mengenai menulis struktur konten, silahkan untuk membaca artikel berikut:
Baca juga: Copywriting: 6 Cara Membuat Hook dan Call to Action yang Menarik dan Engaging
2. Tujuan Konten (Objective)
Selain strukturnya, dalam menyusun script, kamu juga perlu tahu, struktur tanpa objektif, hanyalah sekedar tulisan kosong.
Tujuan konten adalah fondasi utama dalam menyusun script. Tanpa tujuan yang jelas, konten mudah melebar dan akhirnya tidak meninggalkan dampak apa pun ke audiens.
Banyak konten terlihat rapi secara visual, tapi gagal performanya karena sejak awal tidak tahu ingin membawa audiens ke arah mana.
Tujuan konten akan menentukan isi pesan, cara penyampaian, bahkan durasi video. Konten edukasi fokus ke kejelasan dan pemahaman, konten awareness fokus ke relatabilitas, sementara konten konversi fokus ke urgensi dan kepercayaan. Ketika tujuan tidak jelas, script cenderung mencampur semuanya dan hasilnya justru melemahkan pesan.
Karena itu, satu konten sebaiknya memiliki satu tujuan utama. Bukan berarti konten tidak boleh punya efek lain, tapi fokus utamanya harus jelas agar audiens tidak bingung dan pesan mudah diingat.
Baca Juga: Memahami Perbedaan KOL, Affiliator, dan Influencer dalam Strategi Media Sosial.
3. Bahasa & Tone of Voice
Selain kamu memiliki objektif, banyak pemula di dunia social media, masih sering in-konsisten dalam menggunakan gaya bahasa, atau tone of voice dalam pembuatan script.
Akibatnya bisa fatal, tak hanya identitasmu yang sulit dikenal, kontenmu juga jadi susah mendapati insight yang konsisten.
Bahasa dan tone of voice adalah identitas dari sebuah konten. Inilah yang membuat audiens bisa mengenali karakter pembuat konten bahkan sebelum melihat nama akunnya. Tone yang konsisten membangun kepercayaan dan kedekatan jangka panjang.
Tone harus disesuaikan dengan audiens dan tujuan konten. Bahasa santai cocok untuk edukasi ringan dan personal branding, sementara bahasa lebih formal bisa digunakan untuk konteks profesional. Yang terpenting, jangan berganti-ganti tone di tengah script.
Ketika tone terasa jujur dan konsisten, konten akan terasa lebih manusiawi. Audiens tidak merasa sedang “dijualin” atau “diceramahi”, tapi diajak ngobrol.
Contoh:
Kalau dari awal pakai gaya santai, hindari penutup yang tiba-tiba terasa seperti presentasi formal.
Kesimpulan
Membuat script konten yang efektif bukan sekadar soal menata hook, foreshadow, isi, dan CTA.
Di balik itu, ada fondasi penting yang menentukan apakah sebuah konten akan ditonton, dipahami, dan diingat oleh audiens. Tujuan yang jelas, pemahaman terhadap audiens, serta satu pesan inti menjadi penopang utama agar script tidak kehilangan arah.
Pada akhirnya, script konten yang baik adalah script yang menghargai perhatian audiens. Bukan yang paling panjang atau paling rumit, tetapi yang mampu menyampaikan pesan dengan jelas, jujur, dan tepat sasaran.
Kalau kamu masih ingin berdiskusi lebih lanjut, untuk praktik bagaimana membuat script dengan baik, silahkan hubungi Linkedin saya (Muhamad Rafli)
Daftar Pustaka
RevouPedia. (2025). Apa itu Hook dalam Konten? https://www.revou.co/id/kosakata/hook
