TIK TOK
TIK TOK

Tik Tok menjadi New Search Engine, Bagaimana Konten Kreator Harus Menyikapinya?

Beberapa tahun lalu, Google adalah tempat pertama ketika seseorang ingin mencari jawaban. Hari ini, pola itu mulai bergeser.

Alih-alih mengetik di mesin pencari, banyak pengguna, terutama generasi muda, lebih memilih membuka TikTok untuk mencari rekomendasi, tutorial, hingga ulasan produk.

Data perilaku pencarian menunjukkan bahwa pergeseran ini bukan sekadar asumsi. Menurut survei Adobe terhadap lebih dari 800 konsumen dan 250 pemilik usaha, sekitar 40–41% responden di Amerika Serikat mengaku pernah menggunakan TikTok sebagai mesin pencari untuk menemukan informasi yang mereka butuhkan, mulai dari resep, tips, hingga rekomendasi produk atau tempat. Di kalangan generasi muda, tren ini semakin jelas: 64% pengguna Gen Z menggunakan TikTok sebagai alat pencarian, dan hampir 17% konsumen, merasa bahwa tik tok jauh lebih helpfull untuk memenuhi kebutuhan pencarian mereka.

Tik Tok
Source: Adobe Express

Statistik lain pun menegaskan tren ini: menurut survei lain, sekitar 41% responden di AS mengakui mereka menggunakan TikTok untuk mencari informasi, sementara data global menunjukkan bahwa pendekatan pencarian berbasis video kini menjadi bagian penting dari perilaku digital konsumen.

Melalui perubahan ini, bagaimanakah nasib dari praktisi SEO, dan bagaimana konten kreator di tik tok, harus menanggapi data ini? apakah akan ada yang berubah, atau bagaimana? pada artikel ini, saya akan membahas bagaimana konten kreator harus menanggapinya.

A. Konteks: TikTok sebagai “Search by Experience”

Perubahan fungsi TikTok tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara manusia mencari informasi. Jika mesin pencari tradisional bekerja dengan mengandalkan teks, link, dan otoritas situs, maka TikTok bekerja dengan pendekatan yang berbeda: pengalaman manusia sebagai rujukan utama. Pengguna tidak lagi hanya ingin tahu apa jawabannya, tetapi juga bagaimana rasanya.

Tik tok sendiri, tak hanya memberikan gambaran secara tertulis, dan gambar, tapi memberikan gambaran visual berbentuk video yang bisa membuat pengguna merasa lebih nyaman, dan bisa membayangkan, bagaimana pendapat mereka diutarakan.

Baca juga: Bagaimana Cara Menjadi Affiliate di Tik Tok

Inilah yang membedakan TikTok dari mesin pencari konvensional. TikTok tidak menawarkan jawaban yang paling lengkap secara teknis, tetapi jawaban yang paling terasa relevan secara emosional dan kontekstual. Pencarian menjadi lebih intuitif, lebih cepat dipahami, dan lebih mudah dipercaya karena datang dari pengalaman orang lain, bukan sekadar rangkuman data.

Dalam konteks ini, menyebut TikTok sebagai new search engine bukan berarti ia menggantikan peran Google sepenuhnya. Namun, TikTok mengambil porsi penting dalam pencarian berbasis pengalaman, sebuah ruang di mana manusia lebih percaya pada cerita sesama manusia daripada deretan tautan anonim.

B.Apa yang Berubah dari Pola Pencarian Digital?

Perubahan peran TikTok sebagai ruang pencarian tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia lahir dari perubahan yang lebih mendasar: cara manusia mengonsumsi dan memercayai informasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pola pencarian digital mengalami pergeseran signifikan, bukan hanya dari sisi platform, tetapi juga dari sisi ekspektasi pengguna.

Jika sebelumnya pencarian identik dengan mengetik kata kunci lalu membaca artikel, kini proses itu semakin dipersingkat. Pengguna menginginkan jawaban yang cepat, ringkas, dan mudah dipahami tanpa harus menyaring banyak sumber. Video pendek menjawab kebutuhan tersebut dengan menyatukan informasi, visual, dan konteks dalam satu medium.

Perubahan lainnya terlihat pada sumber otoritas. Mesin pencari tradisional menempatkan situs web, media besar, dan domain dengan reputasi tinggi sebagai rujukan utama. Sementara itu, dalam pencarian berbasis media sosial, otoritas bergeser dari institusi ke individu. Kredibilitas tidak lagi semata ditentukan oleh nama besar, tetapi oleh konsistensi, pengalaman nyata, dan kedekatan kreator dengan audiensnya.

Selain itu, pencarian digital kini semakin dipengaruhi oleh emosi dan preferensi personal. Algoritma tidak hanya membaca kata kunci, tetapi juga perilaku, apa yang ditonton hingga selesai, konten apa yang sering disimpan, dan topik apa yang terus dicari. Akibatnya, hasil pencarian menjadi lebih personal, lebih kontekstual, dan terasa lebih relevan bagi setiap pengguna.

Perubahan-perubahan inilah yang menjelaskan mengapa TikTok tidak lagi sekadar diposisikan sebagai platform hiburan. Ia muncul sebagai respons terhadap kebutuhan baru pengguna: pencarian yang cepat, visual, dan berbasis pengalaman nyata. Sebuah pola pencarian yang lebih manusiawi, sekaligus menantang cara lama dalam mendistribusikan informasi digital.

C. Lalu, bagaimana untuk bisa memenangkan rangking di Tik Tok?

Pada dasarnya, konten yang memiliki banyak view, belum berarti konten tersebut bisa berada di top rank pencarian tik tok, ada beberapa pola yang telah penulis observasi, setelah berkecimpung lebih dari dua tahun di tik tok. Berikut list nya:

1. Konten Tutorial praktis (how to)

Untuk berada di Top pencarian tik tok, konten kamu tidak hanya perlu lucu dan memiliki visual yang menarik, tapi juga harus memberikan isi yang praktis, dan bisa dimengerti di 5-8 detik pertama.

Meskipun pengguna lebih menyukai pencarian berbasis video dari pada teks, tetap saja, untuk bisa relevan, masih ada seni dan caranya, dan tidak asal main. Research yang dilakukan oleh marketingltb.com , menunjukan rata-rata video TikTok ditonton selama sekitar 8,4 detik per konten.

Artinya, sekarang kamu mengetahui, bahwa untuk bisa relevan, konten kamu harus bisa praktis.

Tapi praktis saja tidak cukup, jika kontenmu hanya praktis, rasanya tak cukup. Melalui hasil penelusuran penulis, konten yang biasanya berada pada top pencarian, adalah konten yang berisi how to, atau tutorial yang praktis untuk menyelesaikan permasalahan di keyword tersebut.

2. Konten Rekomendasi Tempat dan Produk.

Melalui observasi penulis, dan data yang didapat dari tik tok creative center sendiri, keyword yang banyak dicari adalah keyword yang berbasis produk, seperti yang terlampir dibawah;

Tik tok creative center
Sc: Tik Tok Creative Center

Keyword populer yang disediakan oleh creative center, tidak mungkin dicari sendiri tanpa penghubung, misalnya, tak mungkin kamu mencari “celana” di tik tok, pastinya, kamu akan mencari, misalnya; “celana pria”, atau “celana kerja”

SC: Tik Tok Engine
SC: Tik Tok Engine

Pencarian seperti “Rekomendasi pakaian pria”, “sepatu untuk kerja”, atau “skincare untuk kulit berminyak” kini sering berakhir di TikTok. Alasannya sederhana: pengguna ingin melihat langsung hasilnya. Visual makanan, suasana tempat, reaksi pengguna, hingga konteks harga membuat keputusan terasa lebih cepat dan meyakinkan. Dibanding membaca ulasan teks, pengalaman visual dari orang lain dianggap lebih representatif dan relevan.

Konten rekomendasi, akan jauh lebih bisa mendapatkan retention yang lebih tinggi, karena tik tok akan menganggapnya sebagai konten yang bermanfaat dan berguna bagi penggunanya.

C. Bagaimana Konten Kreator Harus Menanggapi?

Pada dasarnya, mindset yang seringkali ada pada konten kreator adalah; “bagaimana konten saya harus bisa viral?” standarnya-pun selalu mudah ditebak,konten yang baik adalah konten yang views nya tinggi”

Ketika TikTok mulai berfungsi sebagai ruang pencarian, peran konten kreator ikut berubah. Kreator tidak lagi hanya diposisikan sebagai penghibur atau pengisi feed, tetapi sebagai sumber informasi yang dicari secara sadar oleh audiens. Dalam konteks ini, konten bukan lagi soal siapa yang paling ramai, melainkan siapa yang paling relevan ketika dibutuhkan.

Perubahan pertama terlihat pada fungsi konten itu sendiri. Video tidak lagi semata diciptakan untuk mengejar viral moment, tetapi untuk menjawab pertanyaan tertentu. Kreator yang konsisten membahas topik spesifik, baik seputar karier, bisnis, edukasi, review, maupun lifestyle.

Perlahan untuk membangun posisi sebagai rujukan, kamu harus memahami bahwa pengguna datang bukan karena tren, tetapi karena kebutuhan.

Dampak berikutnya adalah umur konten yang semakin panjang. Jika sebelumnya konten TikTok identik dengan performa sesaat, kini banyak video yang terus mendapatkan penayangan karena muncul dalam hasil pencarian. Konten tidak berhenti bekerja setelah 24 jam, melainkan bisa terus relevan selama topiknya masih dicari. Di sinilah pergeseran penting terjadi.

Kalau kamu berkecimpung sebagai affiliator di tik tok, pastinya kamu menyadari, codebost yang efektif saat ini, bukanlah di 30-60 hari, tapi di 365 hari, karena konten affiliator, bersifat jauh lebih evergreen alih-alih konten KOL.

Kedepan, saya akan membahas tentang, “mengapa affiliate jauh lebih menguntungkan dari pada menjadi KOL”

Situasi ini menuntut kreator untuk lebih sadar akan konsistensi topik. Variasi konten yang terlalu acak memang bisa menarik perhatian jangka pendek, tetapi sering kali menyulitkan audiens dan algoritma, untuk memahami posisi seorang kreator. Sebaliknya, kreator yang fokus pada satu atau dua pilar utama cenderung lebih mudah dikenali dan dipercaya sebagai sumber informasi tertentu.

Pada akhirnya, TikTok sebagai new search engine mendorong kreator untuk berpikir lebih strategis. Bukan lagi sekadar “konten apa yang bisa viral hari ini”, tetapi “konten apa yang akan dicari orang besok”. Pergeseran inilah yang membedakan kreator yang sekadar hadir di platform, dengan kreator yang benar-benar membangun peran dan nilai jangka panjang.

D. Kesimpulan

Perubahan peran TikTok dari platform hiburan menjadi ruang pencarian menunjukkan satu hal penting: yang berubah bukan hanya medianya, tetapi perilaku manusianya. Cara orang mencari informasi kini semakin visual, personal, dan berbasis pengalaman. Dalam konteks ini, TikTok hadir sebagai respons atas kebutuhan tersebut, bukan sebagai pengganti mutlak mesin pencari tradisional.

Bagi konten kreator, pergeseran ini membawa konsekuensi yang tidak bisa diabaikan.

Konten tidak lagi dinilai semata dari seberapa viral ia menyebar, tetapi dari seberapa relevan ia menjawab kebutuhan audiens.

Kreator yang mampu memosisikan diri sebagai sumber informasi, dengan topik yang konsisten dan narasi yang jujur, akan memiliki nilai lebih dalam ekosistem pencarian berbasis media sosial.

Di sisi lain, fenomena ini juga menegaskan bahwa kepercayaan menjadi mata uang baru. Ketika TikTok digunakan untuk mencari rekomendasi, solusi, dan insight, audiens tidak hanya menilai konten, tetapi juga menilai siapa yang menyampaikannya. Kredibilitas, pengalaman, dan konsistensi menjadi faktor penentu apakah sebuah konten akan dipercaya atau sekadar dilewati.

Pada akhirnya, menyikapi TikTok sebagai new search engine bukan soal mengikuti tren, melainkan memahami arah perubahan. Kreator yang mampu membaca pergeseran ini akan beradaptasi dan bertahan. Sementara mereka yang tetap memandang TikTok semata sebagai panggung hiburan, perlahan akan tertinggal oleh cara baru audiens mencari dan memercayai informasi.

Daftar Pustaka

Adobe Express. (2024). Using TikTok as a Search Engine. https://www.adobe.com/express/learn/blog/using-tiktok-as-a-search-engine

Carrie Rose. (2025). TikTok SEO statistics 2025 (Updated). https://riseatseven.com/blog/tiktok-seo-statistics-in-2025-/

Bill Nash. (2025). Tiktok Videos Statistics 2025: 93+ Stats & Insights [Expert Analysis]. https://marketingltb.com/blog/statistics/tiktok-videos-statistics/?

Muhamad Rafli Aprilianto. (2025). Memahami Perbedaan KOL, Affiliator, dan Influencer dalam Strategi Media Sosial. https://belajarsosmed.com/perbedaan-kol-affiliate-dan-influencer/

Penulis

  • Muhamad Rafli Aprilianto

    Hai, gue Muhamad Rafli Aptrilianto.
    Sekarang gue aktif sebagai Digital Marketing Specialist dengan niche di social media & content marketing.

    Selama perjalanan gue, gue udah:

    - Bangun 13K+ followers di LinkedIn lewat sharing konten digital marketing setiap hari.
    - Jadi Social Media Intern di Growlab, bikin 90+ konten dengan capaian 30K reach & 40K impressions.
    - Jadi social media lead di Growlab, dimana gue berhasil dapetin 50M akumulasi video dan handle 30 akun sosmed di berbagai brand

    - Pernah jadi KOL Specialist, handle kolaborasi influencer dari micro sampe mega.
    - Punya sertifikasi Digital Marketing BNSP ✅.
    - Jadi pembicara di webinar SEO & Social Media Strategy (Dewatalks, 2025).
    - Jalanin blog belajarsosmed.com & brand “Si Paling Digital Marketing”, tempat gue bikin template dan sharing tools buat bantu UMKM serta marketer pemula.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *