Pernah nggak, Rangers, sudah rajin bikin konten dan iklan, tapi hasilnya sepi? Engagement rendah, konversi nol, padahal sebelumnya sudah yakin audiensnya pas! Bisa jadi, masalahnya ada di satu hal penting, bahwa Rangers belum benar-benar membedakan target audience dan buyer persona.
Wah, emang beda ya?
Nah, di sesi Ask The Expert pada 30 Juli lalu, kita diskusi bareng tentang ini bersama Nadzifa Ummu Nur Syahidah, seorang performance marketer yang sudah meng-handle beberapa brand. Katanya, banyak bisnis yang sebenarnya sudah tahu target audience market-nya, tapi tetap nggak tercapai karena belum punya buyer persona yang jelas, lho!

“Target audience itu gambaran umum sasaran bisnismu. Buyer persona itu versi detailnya, seperti tokoh fiktif yang mewakili customer idealmu,” jelas Nadzifa.
Penasaran nggak sih sama penyebabnya? Yuk, kita kupas satu per satu biar konten Rangers makin tepat sasaran dan strategi digital marketing makin cuan!
Kenalan Dulu dengan Target Audience
Target audience adalah sekelompok orang yang menjadi tujuan utama saat Rangers membuat promosi atau menyampaikan pesan pemasaran. Mereka adalah orang-orang yang paling mungkin tertarik dan membutuhkan produk atau layanan yang Rangers miliki.
Gambaran target audience biasanya ditentukan dari data umum seperti:
- Usia, misalnya 18–35 tahun.
- Jenis kelamin, misalnya perempuan.
- Tempat tinggal, misalnya kota besar.
- Pekerjaan, misalnya mahasiswa atau karyawan.
- Minat atau hobi, misalnya suka fashion Korea atau musik K-pop.
Fungsi target audience adalah mengarahkan strategi pemasaran secara luas, menjadi “peta awal” sebelum Rangers menyusun buyer persona yang lebih detail. Tanpa target audience, strategi konten dan iklan akan terkesan asal-asalan, jelas karena Rangers belum tahu siapa yang seharusnya diajak bicara.
Apa Itu Buyer Persona?
Kalau target audience ibarat peta kota, buyer persona adalah alamat rumah yang spesifik. Buyer persona adalah gambaran detail tentang sosok ideal yang akan membeli produk Rangers. Bukan hanya demografi saja, tapi juga kepribadian, kebiasaan, masalah, motivasi, dan bahkan preferensi emosional mereka.
Contoh buyer persona:
- Nama: Dinda
- Usia: 28 tahun
- Lokasi: Jakarta Selatan
- Hobi: scroll TikTok, mix & match OOTD Korea
- Masalah: bingung cari outfit stylish tapi affordable
- Tujuan: tampil kece setiap hari tanpa boros
- Perilaku belanja: sering checkout saat flash sale, suka produk yang direview influencer
Buyer persona bisa membantu Rangers memahami siapa audiens, apa yang mereka butuhkan, dan faktor apa yang mendorong mereka membeli produk. Dengan persona ini, konten bisa lebih relevan, iklan lebih tepat sasaran, dan engagement meningkat.
“Buyer persona fokus ke yang memutuskan membeli, sedangkan user persona menggambarkan siapa yang akan menggunakan produknya,” jelasnya.
Sekarang Rangers sudah paham bedanya target audience dan buyer persona secara umum. Tapi tunggu dulu! Sebelum langsung bikin konten atau iklan, penting juga untuk memahami hubungannya dengan target market.
Yuk, Sheriff jelasin ke bagian berikutnya untuk bedakan target audience, target market, dan buyer persona, supaya strategi marketing Rangers makin tepat sasaran!
Bedakan Target Audience, Target Market, dan Buyer Persona
Pernah nggak Rangers merasa bingung, siapa sebenarnya yang mau diajak bicara dalam kampanye marketing? Kadang Rangers pikir sudah tahu audiensnya, tapi konten tetap nggak nyambung dan iklan menjadi kurang efektif.
Masalahnya sering muncul karena belum paham perbedaan target audience, target market, dan buyer persona. Di bagian ini, Sheriff akan kupas satu per satu supaya Rangers bisa bikin strategi marketing yang tepat sasaran dan konten yang benar-benar cocok dengan audiens
- Target market: kelompok orang yang cocok membeli produk Rangers secara umum.
- Target audience: siapa yang ingin Rangers ajak bicara dalam kampanye tertentu.
- Buyer persona: karakter spesifik dan detail dari pembeli ideal.
Contohnya, Rangers punya produk jamu detox untuk perempuan 19–40 tahun (target market). Saat campaign Hari Ibu, fokus komunikasi ke ibu-ibu (target audience). Dari situ, buat sosok “Bu Rina” yang mewakili pembeli ideal dengan detail kebiasaan, motivasi, dan preferensi belanja (buyer persona)
Kesalahan Umum Saat Menentukan Target Audience dan Buyer Persona
Banyak strategi digital marketing gagal bukan karena ide buruk, tapi karena salah mengenali siapa yang sebenarnya jadi sasaran. Nah, supaya Rangers tidak terjebak di lubang yang sama, perhatikan beberapa kesalahan yang sering terjadi berikut ini:
- Ingin menjangkau semua orang
Rasanya memang aman kalau kita mencoba bicara ke semua orang, tapi justru ini bikin pesan jadi terlalu umum dan kurang membekas. Akibatnya, audiens merasa “bukan gue banget” dan langsung skip konten Rangers. - Mengandalkan asumsi tanpa data
Kadang kita merasa sudah tahu apa yang audiens mau, padahal belum pernah melakukan riset. Tanpa data nyata dari tools seperti Google Analytics atau survei langsung, persona yang dibuat bisa meleset jauh dari realita. - Segmentasi terlalu sempit
Fokus itu penting, tapi kalau segmentasi terlalu ketat, peluang besar malah terbuang. Misalnya hanya menargetkan usia 20–25 tahun, padahal ada audiens usia 26–30 yang juga relevan. - Tidak memperbarui persona sesuai perubahan tren
Perilaku audiens bisa berubah cepat, apalagi di era digital. Kalau Rangers tetap pakai buyer persona lama tanpa menyesuaikan tren baru, pesan yang disampaikan bisa ketinggalan zaman. - Kurangnya keselarasan di tim
Sering kali setiap bagian tim punya versi buyer persona sendiri, akibatnya strategi konten, desain, dan iklan berjalan tidak sinkron. Pastikan seluruh tim memakai persona yang sama dan memahami detailnya agar eksekusi lebih konsisten.
Kalau Rangers sudah tahu kesalahan yang harus dihindari, jangan berhenti sampai di situ. Karena tanpa buyer persona yang kuat, konten ibarat kapal tanpa kompas, tetap berjalan tapi arahnya nggak jelas. Yuk, cari tahu kenapa buyer persona krusial banget untuk memastikan strategi marketing tetap tepat sasaran!
Kenapa Buyer Persona Krusial?
Buyer persona bukan sekadar daftar demografi atau hobi audiens, lho! Ini adalah panduan detail yang membantu strategi marketing Rangers lebih tepat sasaran. Dengan buyer persona yang jelas, Rangers bisa:
- Bikin konten lebih nyambung
Kalau hanya tahu target audience secara umum, konten Rangers bisa terlalu luas dan kurang mengena. Dengan buyer persona, Rangers tahu apa yang audiens rasakan, masalah yang mereka hadapi, dan apa yang membuat mereka tertarik. - Jalankan iklan lebih efektif
Copywriting dan creatives iklan nggak lagi nebak-nebak. Rangers bisa menyesuaikan pesan dengan kebutuhan dan motivasi audiens, sehingga biaya iklan lebih efisien dan hasil lebih optimal. - Bantu tim marketing fokus
Semua strategi konten, campaign, dan bahkan pengembangan produk bisa diarahkan sesuai karakter persona. Tim nggak lagi bingung menentukan prioritas, karena sudah punya panduan yang jelas. - Menentukan platform dan waktu yang tepat
Ranger bisa tahu di mana audiens paling aktif, jam berapa mereka online, dan tipe konten apa yang paling menarik. Ini memudahkan distribusi konten agar lebih tepat sasaran. - Mengarahkan strategi produk
Buyer persona bisa memandu fitur, harga, dan kemasan produk supaya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan audiens.
“Kalau persona kita jelas, kita bisa tahu platform yang cocok, aktif di jam berapa, dan konten seperti apa yang punya stopping power,” kata Nadzifa.
Intinya, tanpa buyer persona, konten dan iklan yang Rangers miliki nantinya seperti menembak tanpa sasaran. Dengan persona yang tepat, Rangers bisa menyasar audiens dengan presisi, meningkatkan engagement, konversi, dan loyalitas pelanggan.
Buyer Persona dan Customer Journey
Memahami buyer persona nggak cuma penting untuk bikin konten dan iklan lebih nyambung, lho! Persona juga membantu memetakan perjalanan pelanggan dari pertama kali kenal produk sampai mereka memutuskan membeli. Ini yang disebut customer journey.
Dengan customer journey yang terstruktur, Rangers bisa menyesuaikan konten dan strategi di setiap tahap, sehingga audiens merasa diperhatikan dan lebih mudah diarahkan untuk membeli.
Contoh penerapan dengan persona “Dinda” untuk produk jamu detox:
- Awareness (Mengenal Produk):
Buat konten edukasi yang relevan dengan masalah Dinda, misalnya bahaya racun tubuh atau pentingnya menjaga kesehatan rahim. Tujuannya, Dinda mulai sadar dan tertarik dengan solusi yang ditawarkan. - Consideration (Pertimbangan):
Tampilkan testimoni atau review dari orang yang sudah merasakan manfaat jamu detox. Di tahap ini, Dinda mulai membandingkan produk dan menilai apakah solusi ini cocok untuknya. - Purchase (Keputusan Membeli):
Buat penawaran spesial atau reminder yang mendorong Dinda melakukan pembelian, misalnya promo flash sale atau bundling produk.
Dengan memahami langkah-langkah ini, Rangers bisa membuat konten yang tepat di setiap tahap perjalanan pelanggan, bukan sekadar postingan yang asal viral.
“Buyer persona itu kompas untuk produk, konten, dan campaign. Semakin kenal audiens, semakin mudah deliver pesan yang relate, ujungnya pembelian dan loyalitas naik,” kata Nadzifa.
Selain itu, buyer persona juga membantu Rangers melihat emosi dan motivasi di balik keputusan membeli, bukan hanya faktor logis. Misalnya, Dinda tidak hanya ingin produk yang sehat, tapi juga ingin tampil percaya diri dan stylish. Menyentuh sisi emosional ini seringkali membuat konten dan iklan lebih efektif.
Cara Mengumpulkan Data untuk Buyer Persona
Membuat buyer persona yang akurat bukan soal menebak-nebak, tapi mengumpulkan data yang tepat. Rangers butuh kombinasi antara riset kuantitatif (angka dan statistik) dan riset kualitatif (wawancara dan insight mendalam). Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:
- Analisis Data dari Website dan Media Sosial
Gunakan tools seperti Google Analytics atau Meta Business Suite untuk melihat demografi, lokasi, perangkat yang digunakan, hingga konten apa yang paling sering diakses. Data ini memberi gambaran nyata tentang siapa yang sering berinteraksi dengan brand Rangers. - Gunakan Survei Online
Buat survei singkat yang menanyakan hal-hal seperti usia, pekerjaan, tantangan yang dihadapi, dan kebutuhan mereka. Survei bisa disebarkan lewat email, WhatsApp, atau postingan media sosial untuk menjangkau audiens secara langsung. - Wawancara Pelanggan
Pilih beberapa pelanggan yang sudah pernah membeli produk atau jasa Rangers, lalu tanyakan apa yang mereka sukai, kenapa mereka memilih brand Rangers, dan apa yang ingin mereka lihat di masa depan. Dari sini, insight mendalam bisa didapatkan. - Pantau Ulasan dan Komentar
Baca review di marketplace atau komentar di media sosial. Dari sana, Rangers bisa tahu apa yang disukai dan tidak disukai audiens secara langsung. - Lihat Aktivitas Kompetitor
Amati siapa saja yang menjadi audiens kompetitor, jenis konten apa yang mereka posting, dan bagaimana interaksinya. Ini bisa memberi inspirasi sekaligus menghindarkan Rangers dari kesalahan strategi yang sama. - Gunakan CRM (Customer Relationship Management)
Jika brand Rangers punya sistem CRM, manfaatkan data yang tersimpan seperti riwayat pembelian, frekuensi interaksi, dan preferensi produk untuk membentuk buyer persona yang lebih detail.
“Buyer persona yang tepat lahir dari riset yang kuat. Semakin banyak data yang kita kumpulkan, semakin akurat strategi marketing yang bisa kita jalankan,”
Cara Membuat Buyer Persona yang Tepat
Setelah Rangers paham pentingnya buyer persona dan bagaimana hubungannya dengan customer journey, sekarang waktunya bikin persona yang tepat. Buyer persona bukan sekadar data demografi; ini adalah representasi audiens ideal yang akan membantu strategi konten, iklan, dan produk Rangers lebih efektif.
Berikut langkah-langkahnya:
- Beri nama persona
Biar lebih nyata, beri nama fiktif pada persona Rangers. Misalnya “Dinda” atau “Bu Rina”. Nama ini membantu tim marketing membayangkan siapa yang sedang mereka targetkan. - Tuliskan data demografi dasar
Catat usia, lokasi, pekerjaan, dan status sosial. Data ini penting untuk menentukan jenis konten, gaya bahasa, dan platform yang tepat. - Identifikasi masalah utama mereka
Apa yang menjadi pain point audiens Rangers? Masalah ini harus jelas supaya konten dan produk bisa memberikan solusi. - Pahami kebiasaan dan perilaku belanja
Contohnya, apakah audiens sering belanja saat flash sale, suka review influencer, atau cenderung memilih produk yang praktis. Informasi ini akan membantu menentukan angle iklan dan strategi promosi. - Kenali tujuan dan motivasi
Apa yang audiens Rangers ingin capai? Misalnya, tampil stylish setiap hari, tetap sehat tanpa ribet, atau hemat pengeluaran. Dengan memahami motivasi, Rangers bisa menyentuh sisi emosional audiens. - Tambahkan kebutuhan emosional dan rasional
Keputusan membeli sering dipengaruhi emosi sebelum logika. Masukkan kedua aspek ini dalam persona agar konten Rangers benar-benar resonate.
“Sebagai pembeli, aku harus merasa relate dan emosinya tersentuh dulu sebelum pakai logika untuk membeli,” jelas Nadzifa.
- Gunakan sumber data nyata
Ranger bisa ambil insight dari:- Komentar dan testimoni pelanggan
- Survei atau wawancara
- Analisis kompetitor
- Data dari tools seperti Google Analytics atau Meta Business Suite
Dengan buyer persona yang lengkap, Rangers akan lebih mudah:
- Membuat konten yang relevan dan tepat sasaran
- Menentukan platform dan waktu posting yang efektif
- Menyusun iklan dengan angle berbeda sesuai motivasi audiens
- Mengembangkan produk yang sesuai kebutuhan dan kemampuan beli audiens
Membuat buyer persona memang membutuhkan waktu, tapi hasilnya akan terasa di setiap strategi marketing yang Rangers miliki. Konten jadi lebih nyambung, iklan lebih efisien, dan engagement serta konversi meningkat!
Buyer Persona dalam Membuat Ads Copy
Setelah Rangers punya buyer persona yang jelas, selanjutnya kita bisa manfaatkan persona ini untuk bikin ads copy yang lebih efektif. Buyer persona membuat setiap kata, gambar, dan angle iklan tepat sasaran karena didasarkan pada motivasi, masalah, dan kebiasaan audiens.
Contoh penerapan untuk produk jamu detox dengan persona “Dinda”:
- Angle 1: Nyeri haid berlebih
Konten dan hook dibuat untuk menarik perhatian Dinda yang sering merasakan nyeri haid. - Angle 2: Siklus haid tidak teratur
Fokus pada solusi agar siklus haid lebih stabil dan nyaman, sesuai kebutuhan persona. - Angle 3: Darah kotor
Edukasi masalah kesehatan yang mungkin dialami persona dan solusi produk yang ditawarkan. - Angle 4: Keputihan abnormal
Buat konten yang relevan dengan masalah spesifik dan dorong keputusan membeli dengan pendekatan empati.
Dengan membagi iklan berdasarkan masalah dan motivasi persona, setiap ads copy bisa lebih tajam, relevan, dan meningkatkan click-through rate (CTR). Ranger tidak lagi menebak-nebak konten yang cocok, karena semua sudah disesuaikan dengan buyer persona.
“Makin tajem, makin relate, makin kuat hook-nya, biasanya CTR auto tinggi,” jelas Nadzifa.
Selain itu, buyer persona juga membantu menentukan:
- Platform distribusi yang tepat
Misalnya TikTok untuk audiens muda yang aktif scroll, atau WhatsApp/Instagram untuk ibu muda yang ingin cepat dan praktis. - Timing posting
Konten dan iklan lebih efektif jika dijadwalkan saat audiens persona paling aktif. - Variasi pesan dan emosional touch
Buyer persona memberi insight sisi emosional audiens, yang seringkali lebih kuat daripada logika. Konten yang menyentuh emosi cenderung lebih resonan dan meningkatkan loyalitas.
Dengan strategi ini, setiap campaign yang Rangers jalankan lebih terarah, efisien, dan hasilnya maksimal. Buyer persona menjadi kompas untuk menyusun ads copy yang relevan, menarik, dan siap mendorong konversi.
Tips Menghadapi Buyer Persona yang Berubah
Buyer persona bukan sesuatu yang tetap, Rangers. Seiring perkembangan tren, teknologi, dan gaya hidup audiens, persona bisa berubah. Kalau tidak diperbarui, konten dan iklan Rangers bisa jadi kurang relevan atau bahkan gagal menarik perhatian, lho!
Berikut tips supaya buyer persona tetap akurat dan strategi marketing Rangers tetap efektif:
- Perbarui secara berkala
Lakukan evaluasi rutin untuk menyesuaikan persona dengan perilaku, preferensi, dan kebutuhan audiens terbaru. Misalnya, tren belanja online atau platform sosial media yang paling sering digunakan bisa berubah dari waktu ke waktu. - Lakukan split testing
Uji variasi konten atau iklan pada segmen audiens yang berbeda. Hasil testing membantu Rangers melihat mana yang paling efektif dan menyesuaikan persona jika diperlukan. - Validasi ulang market
Selalu cek kembali siapa yang benar-benar membutuhkan dan mampu membeli produk Rangers. Kadang target market berubah atau ada segmen baru yang lebih potensial. - Refine buyer persona secara bertahap
Jangan kaku dalam membuat persona. Ambil insight dari data, komentar, testimoni, dan tren terbaru, lalu sesuaikan persona secara bertahap agar selalu relevan.
“Audiens kita nggak statis, bisa berubah kapan saja sesuai perkembangan teknologi dan gaya hidup. Jadi produk kita tetap connect dan ngikutin perkembangan audiens,” jelas Nadzifa.
Dengan mengikuti tips ini, Rangers bisa memastikan konten tetap relevan, iklan tetap efektif, dan strategi marketing selalu selaras dengan audiens yang sebenarnya. Buyer persona yang diperbarui secara berkala juga membantu tim marketing lebih fokus, efisien, dan tetap on target.
Setelah Rangers tahu cara membuat dan menghadapi buyer persona yang berubah, pertanyaannya sekarang, seberapa besar pengaruh persona ini terhadap keseluruhan strategi marketing?
Yuk, kita lanjut ke bagian berikutnya untuk melihat dampak buyer persona ke strategi marketing supaya setiap keputusan kampanye Rangers lebih tepat sasaran.
Dampak Buyer Persona ke Strategi Marketing
Buyer persona yang jelas dan terperinci tidak hanya membantu konten dan iklan lebih nyambung, Rangers. Persona juga berperan besar dalam seluruh strategi marketing, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Berikut dampaknya:
- Konten lebih relevan dan tepat sasaran
Dengan mengetahui kebutuhan, masalah, dan motivasi persona, Rangers bisa membuat konten yang benar-benar resonan. Tidak ada lagi postingan yang “asal viral” karena setiap pesan disesuaikan dengan audiens yang tepat. - Iklan lebih efektif
Ads copy, visuals, dan call-to-action bisa disusun berdasarkan insight persona. Hasilnya, kampanye lebih efisien, CTR tinggi, dan biaya iklan lebih hemat. - Pemilihan platform dan timing lebih tepat
Buyer persona membantu Rangers mengidentifikasi di mana audiens paling sering menghabiskan waktu dan jenis konten apa yang mereka sukai. Misalnya, kalau persona kamu mayoritas generasi Z yang aktif di TikTok, strategi video pendek dengan gaya santai dan trend terbaru akan lebih efektif. Sementara jika persona kamu banyak berada di LinkedIn, konten profesional dan edukatif akan lebih menarik perhatian. Jenis konten pun bisa disesuaikan. Kalau persona kamu senang dengan informasi ringan tapi bermanfaat, 4 jenis konten media sosial yang audiens suka bisa menjadi panduan awal dalam membuat konten yang tepat sasaran. Namun, untuk persona yang suka interaksi real-time dan pengalaman langsung, strategi live selling bisa menjadi pilihan jitu. Ini bukan hanya tentang tampil di depan kamera, tapi juga membangun interaksi yang membuat audiens merasa dekat. Untuk membongkar trik dan strategi yang sudah terbukti efektif, cek Insight the Expert: Strategi Live Selling dan Konten Real-Time yang Efektif. - Strategi produk lebih sesuai kebutuhan
Persona membantu pengembangan produk, mulai dari fitur, harga, kemasan, hingga strategi promo. Produk yang sesuai kebutuhan audiens lebih mudah diterima dan meningkatkan loyalitas. - Mempermudah tim marketing fokus
Semua strategi campaign, mulai dari konten, iklan, hingga promosi produk, bisa diarahkan sesuai persona. Tim tidak lagi bingung menentukan prioritas atau target karena sudah ada panduan yang jelas.
“Buyer persona itu kompas untuk produk, konten, dan campaign. Semakin kenal audiens, semakin mudah deliver pesan yang relate, ujungnya pembelian dan loyalitas naik,” kata Nadzifa.
Dengan mengetahui kebutuhan, masalah, dan motivasi persona, Rangers bisa membuat konten tepat. Tidak ada lagi postingan yang “asal viral” karena setiap pesan disesuaikan dengan audiens yang tepat. Kalau Rangers mau tahu format konten apa saja yang biasanya disukai audiens, bisa cek panduan lengkapnya di jenis konten media sosial yang audiens suka.
Saatnya Mulai Riset Buyer Persona Rangers
Kalau Rangers ingin konten tepat sasaran, jangan berhenti di target audience saja, ya! Target audience memang memberi gambaran besar, tapi buyer persona memberi detail yang membuat pesan pemasaran lebih mengena, lho!
Kenali siapa yang Rangers ajak bicara, pahami apa yang mereka butuhkan, dan buat strategi berdasarkan itu. Di dunia digital marketing, mengenal target audience adalah kunci untuk engagement tinggi, konversi lebih baik, dan loyalitas pelanggan yang meningkat.
Kalau Rangers suka belajar langsung dari para expert dan nggak mau ketinggalan insight segar seputar dunia digital marketing, langsung aja gabung di Ask The Expert bareng Sheriff setiap hari Rabu. Siapkan pertanyaanmu, bawa rasa penasaranmu, dan temukan jawabannya dari narasumber berpengalaman. Yuk, klik [link ini] untuk daftar dan ikutan!

Daftar Pustaka
Argia Academy. (2024, Juli 10). Kenali target audiens: Strategi efektif untuk pemasaran digital. Argia Academy. https://argiaacademy.sch.id/kenali-target-audiens/
Qiscus. (2023, Maret 15). Buyer persona adalah: Definisi, manfaat, dan cara membuatnya. Qiscus Blog. https://www.qiscus.com/id/blog/buyer-persona-adalah/